Benarkah Lari “Nyeker” Lebih Sehat Daripada Pakai Sepatu?


Mungkin kamu bertanya-tanya, kenapa harus lari tanpa alas kaki alias “nyeker” kalau ada banyak sepatu lari yang dijual di pasaran. Tunggu dulu. Sepatu lari diduga dapat membuat otot-otot kaki menegang akibat dikekang dan dipaksa bekerja lebih keras. 

Itu sebabnya banyak orang kini beralih untuk membiasakan diri lari bertelanjang kaki, karena katanya juga lebih bermanfaat. Benarkah demikian? Beberapa ahli kesehatan berpendapat bahwa lari tanpa alas kaki dapat meningkatkan kelincahan gerak kaki karena memperkuat otot, tendon, dan ligamen kaki tanpa dibatasi oleh tekanan dari sepatu. 

Selain itu, lari nyeker dapat memperkuat otot-otot kecil di telapak kaki, pergelangan kaki, dan pinggul yang bisa membantu kita memperbaiki postur sekaligus memantapkan keseimbangan tubuh. Berlari “nyeker” juga dipercaya dapat menghindari cedera olahraga, seperti otot betis yang tertarik, keseleo, atau cedera Achilles tendon yang disebabkan oleh ketegangan otot berlebihan. 

Manfaat lari tanpa alas kaki tidak berhenti sampai di situ saja, lho! Berlari “nyeker” dapat sekaligus menjadi sesi pijat kaki gratis karena berjalan di atas permukaan yang tidak rata dapat merangsang titik-titik sensitif di telapak kaki untuk memperlancar aliran darah — mirip seperti terapi akupunktur. Lari di atas tanah tanpa alas kaki juga membantu kita merasa lebih terkoneksi dengan alam sekitar, yang membantu mengurangi stres. 

Meski begitu, bukan berarti kita lebih baik berlari bertelanjang kaki. Lari “nyeker” masih menyimpan sejumlah risiko kesehatan yang perlu dipertimbangan masak-masak. 

Risiko cedera

Tak dapat dipungkiri, kapalan atau cedera tertusuk benda tajam dan puing-puing jalanan menjadi risiko terbesar dari lari “nyeker”. Berlari di atas permukaan tanah yang lembap atau jalanan kotor juga dapat meningkatkan risiko infeksi kulit dari mikroorganisme yang tinggal di sana, seperti kutu air hingga kadas dan kurap. 

Pada sebagian besar orang yang belum terbiasa, lari tanpa alas kaki dapat menyebabkan sensasi tidak nyaman atau pegal-pegal hingga bahkan cedera seperti tendonitis atau kram kaki akibat otot betis yang menegang. 

Selain itu, terbiasa lari tanpa alas kaki bisa mengubah struktur asli telapak kaki kita. Sebuah penelitian terbitan jurnal Nature menyatakan bahwa telapak kaki pelari yang bertelanjang cenderung lebih rata daripada yang lari pakai sepatu lari. Telapak kaki manusia dibuat alami melengkung. 

Lengkungan tersebut berfungsi untuk menyeimbangkan tubuh ketika kita melakukan gerakan. Telapak kaki rata justru dapat menyebabkan kita rentan mengalami nyeri dan sakit otot setelah berlari. Dalam kasus tertentu, hal ini dapat meningkatkan risiko terkena plantar fascitis. 

Jadi, lebih baik pakai sepatu lari

Selain berfungsi untuk melindungi kaki dari batu atau benda asing yang mungkin menyakiti telapak kaki, sepatu juga menjaga agar lengkungan kaki tidak berubah merata. Di sisi lain, beberapa ahli beranggapan bahwa memakai sepatu dapat menyebabkan otot-otot kecil kaki melemah sehingga menciptakan postur lari dan gaya gerak kaki yang buruk. 

Daniel Lieberman, PhD, seorang profesor biologi di Harvad University juga mengatakan pada WebMD bahwa berlari pakai alas bisa saja meningkatkan risiko cedera kaki dan lutut. Pakai alas atau tidak, yang paling penting adalah untuk selalu memperhatikan keselamatan sendiri saat berlari. Hindari lari di atas permukaan yang tidak rata dan rentan menyembunyikan “ranjau” berbahaya. Melatih postur lari yang baik juga dapat membantu kita terhindar dari cedera olahraga.
Previous
Next Post »